Postingan

we shouldn’t know each other, i shouldn’t let u in.

matahari ragu-ragu mengumpat dalam telisik gemuruh sorai hiruk pikuk ibukota. kemarin malam telah di proklamirkannya sebuah fakta yang terkubur oleh kegembiraan pribadi yang telah menemukan senyam nyaman dan pengharapan kasih akan seseorang yang telah berhasil membantunya melupakan getir pahit pada sebuah pengharapan yang dulu. sebuah pernyataan yang     meruntuhkan semuanya. langit di kepalanya. meloloskan derai sungai di pelupuk penglihatan. membuka luka serta sesak yang masih meradang. maaf terkesan hiperbola dan berlebihan. hanya mencoba jujur. tanpa sengaja sebuah hati ku lukai. tanpa sengaja dan sadar telah di pupuknya begitu besar harap. waktu yang tidak tepat. atau keterlambatan? terlalu lama ia sembunyikan kepahitan.  namun sudah begitu jauh, begitu mulia perasaan yang tumbuh. sebab ada fikir ia penawar luka akan kepahitan yang lalu. alih-alih terobati, malah di dapat luka baru. menangisi diam-diam kemalangan diri. dipaksanya hati untuk mengikhlaskan...

figuran

deskripsikan aku dengan kata yang tidak memiliki arti.  aku ada disini, terlihat hanya jika kau bersedia memicingkan mata. helai rambut yang merontok menempel pada kaos di bahu kanan mu. maaf. telah menunjukan keberadaan ku. hiraukan atau jangan ganggu.  biar aku sendiri tanpa ada yang berani memberi sapa sehangat mentari, kemudian menjanjikan ku bumi dan setelahnya memberi ku harap akan sebuah hati.  tiba tiba yang pada akhir hanya tersisa paragraf gantung tanpa syair, tanpa melodi. hanya sebuah tulisan menjelma perasaan yang tidak punya arti atau peluang untuk dihargai.  jadi lebih baik pergi atau jangan datang sama sekali.  jangan senang berlalu lalang hanya untuk sekedar menjaga keeksistensian diri. bumi yang kau pijak ini adalah selasar luas hati dalam naungan kekuasaan ku.  keluar, atau lenyap.  jangan hadir hanya sebagai tim penyorak, yang ku butuhkan adalah peran pendukung utama.

kemudian, mati.

hari ini mau kopi apa teh? tapi jangan memohon untuk ku seduhkan dua-duanya. sapu halaman belakang dengan sapu lidi. jangan lupa airi daun telo-telo di pekarangan. hari ini awan berserakan seolah dihempaskan begitu saja dari atas. matahari menyelinap masuk dari setiap selanya. katanya sudah ada janji dengan pohon beringin di ujung lapangan untuk membantunya berfotosintesis.  degup jantung dan kedut nadi sudah digariskan-Nya begitu, mengatur bimbang dan segala perhitungan perputaran bulan pada bumi yang saling mengagumi dalam diam, saling menatap tanpa kata, tenggelam dan larut dalam inti satu sama lain. lukisan di dinding mu kemudian menghantarkan debu dari atap lalu setelahnya jatuh dan tertiup angin kosong. tanpa sarat, tanpa arti, tanpa ada niat ingin menyalahkan.  dan apa arti kita yang dulu, jika sekarang semua sudah begitu berbalik arah. sedikit demi sedikit, penuh kepastian menghantarkan pada ruang hampa nun senyap. terlampau buram, cahayanya sudah temaram lalu...

dinding tebing berlumut basah

     Esensi penting penopang malam sudah tersemat di jemari ku. jangan coba-coba beri aku sedih, atau kan ku guncangkan langit diatas kepala mu, rindu di ujung sukma mu, bendungan di pelupuk mata mu! dan bulan bintang sudah selayaknya kerabat dekat begitu melekat tak ingin saling meninggalkan. bisik-bisik gemuruh angin dari barat menghantarkan sarat bahwa dia merindu akan kamu. hihi lucu.       Lalu apa yang malam tawarkan hari ini? lagu cinta? dongeng dayang sumbi? atau air mata? tidak, tidak untuk saat ini. nafas angin malam campur aduk debu halus kendaraan berasap milik ibukota akan menjadi kawan. rentetan cerita serta kisah baik dari sisi yang di tinggalkan dan meninggalkan. sama-sama memegang kuat alasan, tidak ingin saling terbantahkan. otak sekokoh dinding tebing berlumut yang basah  menyimpan banyak teka dan teki. dan aku akan setia menerka-nerka siapa yang akan masuk neraka. bukan, bukan neraka yang seperti itu. neraka rasa sesal, ne...

kopi hambar rekomendasi mu.

      Beri aku senang, inginku malam ini tidak nangis. Apalagi untuk hal-hal yang tidak begitu penting. Ingin tidak perduli tetapi terlalu memikirkan ambil pusing hal-hal kecil. Suka terheran-heran bahkan pada diri sendiri. Duduk sendirian enak ternyata, sambil melantun kecil ikut-ikut musik asyik yang ku putar dari ponsel. Alunan gamelan dan alat-alat musik keroncongan selalu menjadi favorit. Favorit bagiku, tapi tidak untuk sebagian dari mereka yang milenial. Aku lahir dan tumbuh pada dekade yang kata orang zaman ini, milenial. Dimana teknologi dan semuanya sudah begitu apik. Padahal lima belas tahun lagi ini semua akan mereka sebut kuno. Itulah cara bekerja sang waktu, menggilas peradaban. Dan seperti itulah kehidupan akan terus berlanjut.      Omong-omong, tadi aku mencoba es kopi di minimarket tempat ku menunggu ojek online yang kupesan untuk pulang setiap hari. Cukup murah, dibanding kopi susu yang ku beli di kedai kopi yang saling berlomba menyaji...